Bersabda Rasulullah s.a.w:
Bani Kilab secara khusus disebutkan, tidak lain mereka paling banyak penduduknya dan kambing-kambingnya daripada kafilah lian.
Arti hadits ini ialah bahwasanya Allah Ta’ala pada malam itu menjadikan sifat keagungan-Nya yang oleh karenanya Dia berkuasa memaksa hamba-Nya dan membalas dendam terhadap orang-orang yang melanggar perintah-Nya, menjadikan sifat kebaikan-Nya yang oleh karenanya Dia memberi rahmat dan ampunan. Menurut riwayat dari Abu Ummah Al Bahili RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda;
“Apabila datang bulan Sya’ban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaikilah niatmu di dalamnya.
Demikian pula Aisyah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah berpuasa, sehingga Aisyah menduga beliau tidak akan berbuka, tetapi beliau juga selalu berbuka, sehingga Aisyah mengatakan beliau tidak berpuasa. Dan menurut keterangan Aisyah RA bahwa kebanyakan puasa beliau adalah di dalam bulan Sya’ban. menurut An Nasa’i yang meriwayatkan hadits dari Usamah RA bahwa Usamah pertanya bertanya kepada Rasulullah SAW;
“Ya Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain, seperti puasamu di bulan Sya’ban.
Beliau menjawab; “Itu adalah suatu bulan di antara Rajab dan Ramadhan, yang biasanya manusia lengah daripadanya. Sedangkan amal-amal ini diangkat kepada Tuhan sekalian alam di dalam bulan itu, maka aku suka, jika amalku diangkat (dilaporkan) ketika aku sedang di dalam keadaan berpuasa.
Aisyah RA berkata; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh, kecuali di bulan Ramadhan. Dan akupun tidak pernah melihat beliau di bulan yang lain berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.
Di dalam suatu riwayat disebutkan; bahwa Rasulullah SAW telah berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya. Tetapi Imam Muslim meriwayatkan; bahwa beliau telah berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit.
Dari dua riwayat ini menunjukan, bahwa yang kedua menjelaskan riwayat yang pertama. Jadi yang dimaksud dengan kata “seluruhnya” adalah sebahagian besarnya.
Di dalam suatu keterangan disebutkan; bahwa malaikat-malaikat di langit juga memiliki dua malam hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi memiliki dua malam hari raya. Hanya saja bedanya, malam hari raya malaikat adalah malam Bara’ah yaitu malam Nisfu Sya’ban disebut malam hari raya malaikat.
As-Subki menguraikan dalam tafsirnya; “Sesungguhnya malam Nisfu Sya’ban, malam menutup (menghapus) dosa-dosa setahun, sedangkan malam Jum’at menutup dosa-dosa seminggu dan malam Lailatul Qadar menutup (menghapus) dosa-dosa seumur hidup.”
Inilah landasan bahwa perubahan takdir dapat dilakukan oleh Yang Maha Membuat & Menetapkan takdir. Allah berfirman:
"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (lauhil Mahfuz). (QS Ar-Ra’d: 39).
Malam Nisfu Sya’ban juga disebut malam takfir (penutup) dan malam kehidupan. Menurut Al Mundzir, yang meriwayatkannya dengan marfu’ menyebutkan; “Barangsiapa yang menhidupkan (mengisi) dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah, hatinya tidak akan mati pada saatnya hati ini mati.”
Memang takdir tak bisa dirubah, namun yg membuat & menetapkan takdir bisa merubah atau membatalkan takdir dg Kekuasaan dan Izin-NYA. Nisfu Sya'ban adalah waktu dimana Allah memberi kesempatan bagi hamba-NYA untuk memohon perubahan takdir dari yg buruk-buruk menjadi takdir yg baik-baik. Maka patut berantusiaslah & berkhidmatlah dg peluang emas yg diberikan di bulan Sya'ban ini untuk memohon berbagai kebaikan dari-NYA.
“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Sesungguhnya pada malam setengah (Nisfu) Sya’ban, Allah nampak kepada hamba-hamba-Nya, lalu mengampuni penghuni bumi, kecuali dua orang laki-laki, yaitu orang musyrik dan pendendam.”
Aisyah berkata:
“Ya Unais, duduklah. Aku juga akan menceritakan kepadamu tentang bagian giliranku dari Rasulullah SAW. Beliau datang dan bersamaku masuk kedalam selimutku. Pada tengah malam aku terbangun dan aku tidak melihat beliau ada disisiku lagi. Lalu aku berkata (dalam hati);
“Mungkinkah beliau pergi ke perempuan (istri) mudanya Al Qibthiyah. Maka keluarlah aku dan aku lewat di masjid, lalu kakiku menyentuhya dan ketika beliau sedang bersabda; “Telah sujud kepada-Mu tubuh dan diriku, dan hatiku beriman kepada-Mu. Ini tanganku dan dengan tangan ini aku memetik sesuatu faedah atas diriku. Wahai Tuhan Maha agung yang menjadi tumpuhan harapan untuk setiap urusan-urusan besar, ampunilah dosa yang besar. Wajahku sujud kepada-Mu Tuhan yang telah menciptakannya, membuat rupanya, membelah pendengaran dan penglihatan.”
Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bersabda pula:
“Ya Allah, berilah aku rizki hati yang bertaqwa, suci bersih dari syirik, tidak kafir dan tidak pula celaka.”
Beliau bersabda: “Ya Humaira (panggilan untuk Siti Aisyah), bukankah engkau mengetahui, bahwa malam hari ini sesungguhnya malam Nisfu Sya’ban?
Dan sesungguhnya malam ini Allah Azza wa Jalla memiliki orang-orang yang dimerdekakan dari neraka sebanyak bilangan kambing suku Kalbin, kecuali enam golongan;
1. Bukan peminum arak (minuman keras yang memabukkan)
2. Bukan orang yang berani kepada orang tuanya
3. Bukan orang yag melangsungkan (melanggengkan) zinah
4. Bukan orang yang memutuskan (hubungan famili)
5. Bukan mudharrib, dan
6. Bukan pengadu domba (orang yang suka menghasut)
Di dalam riwayat lain disebut “mushawwir” (menggambarkan) sebagai kata ganti “muddharrib” (mendorong permusuhan). Dan dia (Nisfu Sya’ban) juga disebut malam pembagian dan penentuan, sebagai mana Atha’ bin Yasar meriwayatkan; bahwa apabila datang malam Nisfu Sya’ban, setiap orang yang akan mati disalinlah (digantilah) bagi malaikat maut dari Sya’ban kepada Sya’ban berikut. Dan sesungguhnyalah, seseorang hamba benar-benar dalam keadaan sedang menanam tanaman, mengawini (menggauli) beberapa istri dan membangun (mendirikan) bangunan, padahal namanya telahdi salin dalam deretan orang-orang mati. Dan tidaklah malaikat menuggu, kecuali diperintahkan untuk hamba itu lalu dia mencabutnya.
Mari kita optimalkan ibadah di bulan Sya'ban
Berdasarkan uraian di atas maka Nabi SAW, istri dan para sahabatya menjadikan bulan Sya’ban terutama malam-malam harinya sebagai tempat banyak beribadah mendekatkan diri kepada Allah, mohon maghfirah Allah serta bermohon kapada-Nya agar dapat dipertemukan dengan Bulan Ramadhan yang akan tiba. Maka tidak ada dasarnya apabila bulan Sya’ban disisi kegiatan-kegiatan yang nyata-nyata bernuansa syirik.