Senin, 18 Juli 2011

Nisfu Sya'ban


Bersabda Rasulullah s.a.w:
Jika datang malam nisfu sya’ban maka bangunlah (untuk beribadah kepada Nya) pada malamnya, dan berpuasalah pada siang harinya. Sesungguhnya Allah menurunkan sejak terbenamnya matahari sampai langit dunia dan berkata: siapa saja yang minta ampun akan akan diampuni, siapa saja meminta kesehatan akan diberikan kesembuhan dan kesehatan, siapa saja yang meminta kelapangan rezeki akan dianugerahkan kelapangan rezeki, dan siapa saja meminta apa saja Aku penuhi sampai waktu fajar. (Al Qurtubi).
Kata sya’ban berasal dari kata asy-sya’bi yang artinya jalan di gunung; jalan yang sangat banyak kebaikan. Dari Aisyah RA berkata Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya rahmat Allah turun pada pada malam pertengahan bulan Sya’ban, ke langit dunia, maka Allah memberikan ampunan lebih banyak daripada bilangan rambut kambing milik kafilah Kilab.” (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah dari Aisyah RA)

Bani Kilab secara khusus disebutkan, tidak lain mereka paling banyak penduduknya dan kambing-kambingnya daripada kafilah lian.


Arti hadits ini ialah bahwasanya Allah Ta’ala pada malam itu menjadikan sifat keagungan-Nya yang oleh karenanya Dia berkuasa memaksa hamba-Nya dan membalas dendam terhadap orang-orang yang melanggar perintah-Nya, menjadikan sifat kebaikan-Nya yang oleh karenanya Dia memberi rahmat dan ampunan. Menurut riwayat dari Abu Ummah Al Bahili RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda;


“Apabila datang bulan Sya’ban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaikilah niatmu di dalamnya.


Demikian pula Aisyah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah berpuasa, sehingga Aisyah menduga beliau tidak akan berbuka, tetapi beliau juga selalu berbuka, sehingga Aisyah mengatakan beliau tidak berpuasa. Dan menurut keterangan Aisyah RA bahwa kebanyakan puasa beliau adalah di dalam bulan Sya’ban. menurut An Nasa’i yang meriwayatkan hadits dari Usamah RA bahwa Usamah pertanya bertanya kepada Rasulullah SAW;
“Ya Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain, seperti puasamu di bulan Sya’ban.


Beliau menjawab; “Itu adalah suatu bulan di antara Rajab dan Ramadhan, yang biasanya manusia lengah daripadanya. Sedangkan amal-amal ini diangkat kepada Tuhan sekalian alam di dalam bulan itu, maka aku suka, jika amalku diangkat (dilaporkan) ketika aku sedang di dalam keadaan berpuasa.


Aisyah RA berkata; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh, kecuali di bulan Ramadhan. Dan akupun tidak pernah melihat beliau di bulan yang lain berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.


Di dalam suatu riwayat disebutkan; bahwa Rasulullah SAW telah berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya. Tetapi Imam Muslim meriwayatkan; bahwa beliau telah berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit.


Dari dua riwayat ini menunjukan, bahwa yang kedua menjelaskan riwayat yang pertama. Jadi yang dimaksud dengan kata “seluruhnya” adalah sebahagian besarnya.


Di dalam suatu keterangan disebutkan; bahwa malaikat-malaikat di langit juga memiliki dua malam hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi memiliki dua malam hari raya. Hanya saja bedanya, malam hari raya malaikat adalah malam Bara’ah yaitu malam Nisfu Sya’ban disebut malam hari raya malaikat.


As-Subki menguraikan dalam tafsirnya; “Sesungguhnya malam Nisfu Sya’ban, malam menutup (menghapus) dosa-dosa setahun, sedangkan malam Jum’at menutup dosa-dosa seminggu dan malam Lailatul Qadar menutup (menghapus) dosa-dosa seumur hidup.”


Inilah landasan bahwa perubahan takdir dapat dilakukan oleh Yang Maha Membuat & Menetapkan takdir. Allah berfirman:

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (lauhil Mahfuz). (QS Ar-Ra’d: 39).


Dari uraian tersebut kita dapat mengambil pengertian, bahwa menghidupkan dan mengisi malam-malam tersebut dengan ibadah dapat menghapuskan dosa.

Malam Nisfu Sya’ban juga disebut malam takfir (penutup) dan malam kehidupan. Menurut Al Mundzir, yang meriwayatkannya dengan marfu’ menyebutkan; “Barangsiapa yang menhidupkan (mengisi) dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah, hatinya tidak akan mati pada saatnya hati ini mati.”

Memang takdir tak bisa dirubah, namun yg membuat & menetapkan takdir bisa merubah atau membatalkan takdir dg Kekuasaan dan Izin-NYA. Nisfu Sya'ban adalah waktu dimana Allah memberi kesempatan bagi hamba-NYA untuk memohon perubahan takdir dari yg buruk-buruk menjadi takdir yg baik-baik. Maka patut berantusiaslah & berkhidmatlah dg peluang emas yg diberikan di bulan Sya'ban ini untuk memohon berbagai kebaikan dari-NYA.

Dia juga disebut malam safaat, sebagaiman diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW meminta safaat untuk ummatnya kepada Allah SWT pada malam ketiga belas, lalu Allah memberinya sepertiga. Beliau meminta lagi kepada-Nya pada malam keempat belas, lalu Allah SWT memberikan dua pertiga, dan ketika beliau meminta lagi pada malam kelima belas, lalu Allah SWT memberi seluruhnya, kecuali orang yang lari dari melepaskan (menhindari) diri dari Allah dengan melangsungkan perbuatan durhaka. Selain itu, malam Nisfu Sya’ban disebut juga malam maghfirah dan malam kemerdekaan. Imam Ahmad meriwayatkan;
“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Sesungguhnya pada malam setengah (Nisfu) Sya’ban, Allah nampak kepada hamba-hamba-Nya, lalu mengampuni penghuni bumi, kecuali dua orang laki-laki, yaitu orang musyrik dan pendendam.”

Aisyah berkata:
“Ya Unais, duduklah. Aku juga akan menceritakan kepadamu tentang bagian giliranku dari Rasulullah SAW. Beliau datang dan bersamaku masuk kedalam selimutku. Pada tengah malam aku terbangun dan aku tidak melihat beliau ada disisiku lagi. Lalu aku berkata (dalam hati);

“Mungkinkah beliau pergi ke perempuan (istri) mudanya Al Qibthiyah. Maka keluarlah aku dan aku lewat di masjid, lalu kakiku menyentuhya dan ketika beliau sedang bersabda; “Telah sujud kepada-Mu tubuh dan diriku, dan hatiku beriman kepada-Mu. Ini tanganku dan dengan tangan ini aku memetik sesuatu faedah atas diriku. Wahai Tuhan Maha agung yang menjadi tumpuhan harapan untuk setiap urusan-urusan besar, ampunilah dosa yang besar. Wajahku sujud kepada-Mu Tuhan yang telah menciptakannya, membuat rupanya, membelah pendengaran dan penglihatan.”


Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bersabda pula:
“Ya Allah, berilah aku rizki hati yang bertaqwa, suci bersih dari syirik, tidak kafir dan tidak pula celaka.”

Beliau bersabda: “Ya Humaira (panggilan untuk Siti Aisyah), bukankah engkau mengetahui, bahwa malam hari ini sesungguhnya malam Nisfu Sya’ban?
Dan sesungguhnya malam ini Allah Azza wa Jalla memiliki orang-orang yang dimerdekakan dari neraka sebanyak bilangan kambing suku Kalbin, kecuali enam golongan;


1. Bukan peminum arak (minuman keras yang memabukkan)


2. Bukan orang yang berani kepada orang tuanya

3. Bukan orang yag melangsungkan (melanggengkan) zinah

4. Bukan orang yang memutuskan (hubungan famili)

5. Bukan mudharrib, dan

6. Bukan pengadu domba (orang yang suka menghasut)

Di dalam riwayat lain disebut “mushawwir” (menggambarkan) sebagai kata ganti “muddharrib” (mendorong permusuhan). Dan dia (Nisfu Sya’ban) juga disebut malam pembagian dan penentuan, sebagai mana Atha’ bin Yasar meriwayatkan; bahwa apabila datang malam Nisfu Sya’ban, setiap orang yang akan mati disalinlah (digantilah) bagi malaikat maut dari Sya’ban kepada Sya’ban berikut. Dan sesungguhnyalah, seseorang hamba benar-benar dalam keadaan sedang menanam tanaman, mengawini (menggauli) beberapa istri dan membangun (mendirikan) bangunan, padahal namanya telahdi salin dalam deretan orang-orang mati. Dan tidaklah malaikat menuggu, kecuali diperintahkan untuk hamba itu lalu dia mencabutnya.

Mari kita optimalkan ibadah di bulan Sya'ban

Berdasarkan uraian di atas maka Nabi SAW, istri dan para sahabatya menjadikan bulan Sya’ban terutama malam-malam harinya sebagai tempat banyak beribadah mendekatkan diri kepada Allah, mohon maghfirah Allah serta bermohon kapada-Nya agar dapat dipertemukan dengan Bulan Ramadhan yang akan tiba. Maka tidak ada dasarnya apabila bulan Sya’ban disisi kegiatan-kegiatan yang nyata-nyata bernuansa syirik.



Minggu, 10 April 2011

MUKJIZAT SHALAT BERJAMA’AH


MUKJIZAT SHALAT BERJAMA’AH

مَنْ مَشَى إِلىَ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فيِ الجَماَعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَمَنْ مَشَى إِلىَ صَلاَةِ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ تاَمَّةٍ
Barangsiapa melangkahkan kaki untuk melaksanakan shalat fardu berjama’ah maka itu laksana melaksanakan ibadah Haji. Barangsiapa melangkahkan kaki untuk melaksanakan shalat sunnah maka itu laksana melaksanakan ibadah Umrah sempurna. (HR. Thabraniy)

وَحَقِيْقَةُ الجَماَعَةِ هُناَ الاِرْتِباَطُ الحاَصِلِ بَيْنَ الإِماَمِ وَالمَأْمُوْمِ وَلَوْ وَاحِدًا وَهِيَ مِنْ خَصاَئِصِ هَذِهِ الأُمَّةِ كاَلجُمْعَةِ وَالعِيْدَيْنِ وَالكُسُوْفَيْنِ وَالاِسْتِسْقاَءِ

Hakikat shalat berjama’ah di sini ialah kesinambungan yang didapatkan antara imam dan makmum, meskipun satu orang makmum. Shalat berjama’ah ini ialah ketentuan khusus ummat ini, seperti shalat jum’at, shalat hari raya, shalat gerhana dan shalat Istisqo.

قاَلَ المَناَوِيْ وَحِكْمَةُ مَشْرُوْعِيَّتِهاَ قِياَمُ نِظاَمِ الأُلْفَةِ بَيْنَ المُصَلِّيْنَ , وَلِذَا شُرِعَتْ المَساَجِدُ فيِ المَحاَلِ لِيَحْصُلَ التَّعَاهُدُ بِاللِّقاَءِ فيِ أَوْقاَتِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الجِيْرَانِ وَِلأَنَّهُ قَدْ يُعْلَمُ الجاَهِلُ مِنَ العَالِمِ ماَ يَجْهَلُهُ مِنْ أَحْكاَمِهَا وَِلأَنَّ مَرَاتِبَ النَّاسِ مُتَفَاوِتَةٌ فيِ العِباَدَةِ فَتَعُوْدُ بَرْكَةُ الكَامِلِ عَلَى النَّاقِصِ فَتَكْمُلُ صَلاَةُ الجَمِيْعِ اهـ

Imam Al-Manawiy berkata : Hikmah diberlakukan shalat berjama’ah ialah mempererat hubungan sosial antara orang-orang shalat. Oleh karenanya, diberlakukan juga mendirikan mesjid di suatu tempat, agar bisa lebih memperhatikan waktu shalat berjama’ah antara masyarakat, juga agar bisa menyempurnakan shalat orang-orang awam, karena martabat ibadah manusia itu beragam, dengan demikian keberkahan yang sempurna akan menutupi shalat yang kurang, yang pada akhirnya shalat yang dilakukan semuanya akan menjadi sempurna. SHALAT SEMPURNA MERUPAKAN MUKJIZAT TIDAK TERNILAI.

وَقَدْ وَرَدَ فيِ فَضْلِهاَ أَحاَدِيْثٌ كَثِيْرَةٌ مِنْهاَ ؛ ماَرَوَاهُ التُّرْمُذِي عَنْ أَنَسَ أَيْضًا - مَنْ صَلَّى أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فيِ جَماَعَةٍ يَدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ الأُوْلىَ كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتاَنِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ -

Mukjizat shalat berjamah banyak tertuang dalam hadits-hadits, diantaranya riwayat Turmudzi dari Anas berikut - “Barangsiapa shalat berjama’ah selama empat puluh hari berjama’ah, dengan mengejar Takbiratul-Ihram bersama Imam, maka baginya dicatat dua poin titik aman, bebas api neraka dan bebas kemunafikan”-.

وَفيِ المَنْحِ السَّنِيَّةِ عَلَى الوَصِيَّةِ المَتْبُوْلِيَّةِ لِلْقُطُبْ الشَّعْرَانِي ماَ نَصَّهُ - وَقَدْ كاَنَ السَّلَفُ يَعِدُوْنَ فَوَاتَ صَلاَةِ الجَماَعَةِ مُصِيْبَةً وَقَدْ وَقَع أَنَّ بَعْضَهُمْ خَرَجَ إِلىَ حَائٍطٍ لَهُ يَعْنِي حَدِيْقَةَ نَخْلٍ فَرَجَعَ وَقَدْ صَلَّى النَّاسُ صَلاَةَ العَصْرِ فَقاَلَ إِنَّا ِللهِ فَاتَتْنِي صَلاَةُ الجَماَعَةِ أُشْهِدُكُمْ عَلَيَّ أَنَّ حاَئِطِيْ عَلَى المَساَكِيْنَ صَدَقَةً -

Dalam pustaka Al-Manhu Saniyyah (Wasiat Nabi SAW) disusun oleh Al-Qutub Asya’roniy ada catatan berikut – “Para Ulama salaf (sahabat) meyakini bahwa tertinggal shalat berjama’ah adalah musibah. Suatu hari salah seorang sahabat pernah pergi keluar rumah menuju kebun kurma, ketika kembali ternyata orang-orang sudah melaksanakan shalat Asar berjama’ah, ia tertinggal shalat berjama’ah. Dan ia pun berkata ; “Inna Lillah, saya tertinggal shalat berjama’ah, saksikan kepada kalian semua, bahwa saya nadzar (memberi wajib) kebun kurma saya disedekahkan untuk orang-orang miskin (sebagai kifarat dosa yang berakibat tertinggal shalat berjama’ah)” -.

وَفاَتَتْ عَبْدُ اللهِ بِنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ صَلاَةَ العِشاَءِ فيِ الجَمَاعَةِ فَصَلَّى تِلْكَ اللَّيْلَةِ حَتَّى طَلَعَ الفَجْرُ جَبْرًا لِماَ فاَتَهُ مِنْ صَلاَةِ العِشاَءِ فيِ الجَمَاعَةِ

Abdullah bin Umar ra suatu saat pernah tertinggal shalat berjama’ah Isya karena sesuatu, kemudian beliau melaksanakan shalat Isya tersebut berulang-ulang sampai terbit fajar, untuk menambal martabat berjama’ah shalat Isya yang tertinggal.

وَعَنْ عُبَيْدِ اللهِ بِنْ عُمَرْ القَوَارِيْرِيْ رَحِمَهُ اللهُ تَعاَلىَ قاَلَ ؛ لَمْ تَكُنْ تَفُوْتَنِي صَلاَةٌ فيِ الجَماَعَةِ فَنَزَلَ بِي ضَيْفٌ فَشَغَلْتُ بِسَبِبِهِ عَنْ صَلاَةِ العِشَاءِ فيِ المَسْجِدِ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُ المَسْجِدَ ِلأُصَلِّيْ فِيْهِ مَعَ النَّاسِ فَإِذاً المَسَاجِدُ كُلُّهاَ قَدْ صَلَّى أَهْلُهَا وَغُلِقَتْ فَرَجَعْتُ إِلىَ بَيْتِي وَأَناَ حَزِيْنٌ عَلَى فَوَاتِ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ فَقُلْتُ وَرَدَ فيِ الحَدِيْثِ إِنَّ صَلاَةَ الجَمَاعَةِ تَزِيْدُ عَلَى صَلاَةِ الفَذِّ سَبْعًا وَعِشْرِيْنَ فَصَلَيْتُ العِشَاءَ سَبْعًا وَعِشْرِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ نُمْتُ فَرَأَيْتُنِي فيِ المَناَمِ عَلَى فَرْسٍ مَعَ قَوْمٍ عَلَى خَيْلٍ وَهُمْ أَمَامِيْ وَأَناَ أَرْكِضُ فَرْسِي خَلْفَهُمْ فَلاَ أَلْحِقُهُمْ فاَلْتَفَتُ إِليَ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَقاَلَ تَتْعَبُ فَرْسَكَ فَلَسْتَ تَلْحَقُناَ فَقُلْتُ وَلِمَ ياَ أَخِيْ قَالَ ِلأَنَّا صَلَّيْناَ العِشاَءَ فيِ الجَماَعَةِ وَأَنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ وَحْدَكَ فاَسْتَيْقَظْتُ وَأَناَ مَهْمُوْمٌ حَزِيْنٌ

Syekh Ubaedillah bin Umar Al-Qowaririy rhm bercerita ; Saya memang tidak pernah tertinggal shalat berjama’ah, suatu saat saya kedatangan tamu dan tentunya saya sibuk melayani tamu itu sehigga saya tertinggal shalat berjama’ah Isya di mesjid tepat awal waktu. Setelah tamu pulang kemudian saya langsung pergi ke mesjid agar bisa shalat Isya berjama’ah meskipun tidak awal waktu, ketika sampai mesjid, ternyata semua orang sudah melaksanakan shalat Isya, bahkan pintu mesjid sudah terkunci. Akhirnya saya pulang ke rumah dengan penuh penyesalan. Sebelum masuk rumah, tiba-tiba teringat dalam benak saya sebuah hadits “Sesungguhnya shalat berjama’ah itu melebihi shalat 27 kali sendirian” kemudian saya melaksanakan shalat Isya 27 kali dengan harapan dapat mengimbangi martabat shalat berjama’ah, setelah shalat saya pun tidur.

Dalam tidur saya bermimpi, saya mengendarai kuda beserta orang-orang, saya berada di belakang sedangkan orang-orang berada jauh di depan, saya memacu kuda agar bisa seiring bersama mereka, namun sayang saya tidak sanggup mengejarnya. Kemudian saya memandang salah satu dari mereka.

“Kamu menyusahkan kuda mu, meskipun memacu dengan kecepatan tinggi kamu tidak akan sanggup mengejar kami”. Begitu ia berkata kepada saya. “Mengapa hai kawan?” Saya bertanya kepadanya. “Karena kami melaksanakan shalat Isya berjama’ah sedangkan kamu melaksanakan shalat Isya sendirian meskipun dilakukan sampai 27 kali”. Jawabnya. Mendangar jawaban itu, saya pun terbangun, sedih bercampur penyesalan.

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ ماَ فاَتَتْ أَحَدًا صَلاَةُ الجَمَاعَةِ إِلاَّ بِذَنْبٍ أَصَابَهُ وَقَدْ كاَنُوْا يَعِزُوْنَ أَنْفُسَهُمْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ إِذَا فَاتَتْ أَحَدُهُمْ صَلاَةَ الجَمَاعَةِ وَقِيْلَ رَكْعَةً وَيَعِزُوْنَ أَنْفُسَهُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِذَا فاَتَتْهُمُ التَّكْبِيْرَةُ الأُوْلىَ مَعَ الإِماَمِ فاَعْلَمْ ذَلِكَ ياَ أَخِيْ اهـ

Sebagian Ulama Salaf (Sahabat) berkata ; Tidak semata-mata mengalami tertinggal shalat berjama’ah melainkan hal itu hanya disebabkan suatu dosa yang telah di perbuat. Diantara mereka sering mengkarantina diri selama satu minggu untuk proses rehabilitasi apabila salah seorang dari mereka tertinggal shalat berjama’ah bahkan sekalipun hanya tertinggal satu raka’at. Mereka juga melakukan rehabilitasi diri mereka selama tiga hari apabila dalam shalat berjama’ah itu tertinggal Takbiratul-Ikhram bersama imam, renungkanlah hal ini wahai sahabatku..?!

Allah mengetahui segalanya

Ref. : Kitab I’anathuth-Thalibin Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad-Dimyatiy

Minggu, 20 Maret 2011

MENIKMATI SHOLAT


MENIKMATI SHOLAT

Suatu ketika Rosulullah menawarkan sayembara kepada Ali bin Abi Thalib dengan Hadiah SORBAN Beliau jika Ali bin Abi Thalib mampu sholat sunnah 2 rakaat dengan khusyu’ tanpa mengingat apapun kecuali bacaan dan do’a sholatnya. Ali bin Abi Tholibpun menerima tawaran itu dan langsung melaksanakannya, setelah selesai sholat, Rosulullah bertanya “ Bagaimana ? “ , “ wah gak bisa ya Rosul, waktu sudah mendekati salam, saya ingat Sorban Rosul yang akan Anda berikan kepada saya “.

Suatu ketika Rosulullah memimpin sholat Jama’ah, lalu beliau mendengar ada tangisan bayi di belakangnya, maka Rosulullah mempercepat sholatnya. Demikian juga ketika beliau sholat sambil menggendong cucunya, anak kecil itu kadang digendong kadang juga diletakkan padahal beliau sedang sholat.

Khusyu’ dalam sholat bukan berarti TIDAK INGAT APA-APA kecuali bacaan sholat

Sahabat Sukses Rumah Yatim Indonesia yang senantiasa mentaati Allah SWT, sudah berapa lama kita melaksanakan Sholat ?
tapi apa yang selama ini kita rasakan atau apa yang bisa kita nikmati dalam sholat kita ?
rasanya biasa-biasa saja, belum ada yang istimewa, kelihatannya masih hambar, kadang-kadang bisa sedikit khusyu’ bahkan sekali-sekali bisa menangis ketika berjama’ah orang-orang pada nangis ya kita juga ikutan nangis atau hanyut dengan keindahan suara sang Imam.

Lalu pernahkah kita mengevaluasi sholat kita selama ini, adakah keinginan kita meningkatkan kualitas sholat kita ?
ataukah kita biarkan menggelinding begitu saja, asal-asalan, asal sudah sholat dan gugur sudah kewajiban.

Sahabat inilah bagian terpenting bagaimana kita bisa merasakan Orgasme Spiritual.

“ Dan hendaklah kalian MEMOHON PERTOLONGAN dengan KESABARAN dan SHALAT. Karena sesungguhnya ia benar-benar berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan MENEMUI RABB mereka dan bahwa mereka hanya akan kembali kepada-Nya”.( Al-Baqoroh : 45-46 )

Dalam ayat diatas Allah kasih 4 POIN YANG SALING TERKAIT untuk dapat menikmati sholat :

Yang pertama :
Sholat kita akan terasa nikmat ketika kita MERASA BUTUH PERTOLONGAN ALLAH, mengapa kita butuh pertolongan Allah ?
karena kita SELALU PUNYA MASALAH atau BEBAN, oleh karena itu bawalah masalah dalam sholat kita, semakin besar masalah atau beban kita semakin nikmatlah sholat kita, kita akan merintih, menangis, kulit dan badan kita mungkin akan gemetaran bahkan ingin menjerit rasanya. Hanya saja seringkali kita merasa tidak punya masalah yang membutuhkan solusi dari Allah SWT padahal masalah kita itu pasti selalu ada, masalah ekonomi, hubungan suami istri dan keluarga, anak-anak, pendidikan, masyarakat dan Negara, inilah penyebab mengapa kita kurang bisa menikmati sholat kita.

Oleh karena itu jika masalah atau beban kita sudah terlalu ringan, angkatlah beban sebesar-besarnya, buatlah mega proyek yang membuat kita akan tersungkur menagis dan menjerit dihadapan Allah yang Maha Perkasa. Maka ketika itu kita akan merasakan bagaimana ‘ Tangan Allah ‘ membantu mengangkat beban masalah bersama kita, dan rasakanlah kebahagiaan dan kenikmatan yang luar biasa ketika beban atau masalah yang berat itu terselesaikan.

Yang kedua :
kita akan menikmati sholat dalam kondisi SABAR, tidak tergesa-gesa dan menghargai sebuah PROSES yang sedang berjalan. Dalam hal ini kita perlu memenej waktu sholat kita agar ‘ MEETING ‘ kita bersama Allah sangat Asyik dan tidak diburu oleh sebuah pekerjaan atau kepentingan lain. Disinilah Allah memberikan kebijakan dengan adanya Sholat Jama’ ( mengumpulkan 2 waktu sholat dalam satu waktu ) dan Sholat Qoshor ( meringkas Sholat yang 4 Rakaat menjadi 2 rakaat ), dari sinilah kita bisa memenej waktu sholat kita, ketika kita ada sebuah urusan yang sangat urgen yang bertepatan dengan waktu sholat tiba atau waktu sholat akan berkhir. Dengan memenej waktu sholat ini, maka ‘ Meeting kita Bersama Allah ‘ akan semakin nikmat dan leluasa berkomunikasi mencari solusi.

“ Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, ALLAH SELALU MENYERTAI ORANG-ORANG YANG SABAR “( Al-Baqoroh :153 ).

Yang ketiga :
agar kita bisa serius menikmati sholat kita, kita harus YAKIN bahwa kita sedang melakukan MEETING dengan VERY VERY SPECIAL PATNER ( Robb=Tuhan ) yang benar-benar menawarkan berbagai macam mega proyek dan investasi sekaligus konsultasiNYA / pendampinganNYA, apanya yang gak enak ?
kalau kita ditawari Mega Proyek terus dibantu investasinya dan dibantu juga konsultasinya 100% gratis dan hasilnya 100% buat kita, gendeng saja men kalau kita gak mau !

Mungkinkah ketika kita sedang meeting dengan orang yang akan memberi Peluang Mega Proyek, kemudian kita bilang “ Maaf ya pak, saya Cuma ada waktu 1 menit, gimana kalau to the point aja !”. kira-kira gimana jawaban kita kalau kita adalah Pihak yang akan memberi Peluang Mega Proyek tersebut ?,
mungkin kira-kira begini jawaban kita “ eh dasar sontoloyo, emangnya gue yang butuh sama loe, 1 menit ? emangnya kuis apa ?! “.

Atau seorang Istri yang sudah dandan super cantik di kamar tidur yang indah, rapih dan wangi menunggu sang suami, namun ketika suami datang disambut istri dengan senyuman menuju kamar yang telah disiapkan, tiba-tiba sang suami bilang “ maaf ya sayang, aku cuma ada waktu 5 menit ada kerjaan yang harus selesai segera “, apa jawab istri kira-kira “ 5 menit ? enakan di loe gak enak di gue dong “.

Yang keempat :
adalah SHOLAT itu sendiri harus kita mengerti dan kita pahami ATURAN MAINNYA, tahu bagaimana gerakannya yang benar, tahu jumlah rakaatnya, hafal dan memahami bacaan dan doa-doanya dan tahu juga segala aturan yang mendukungnya. Wah ini dia yang berat dan susah ! siapa bilang ?
coba bandingkan berapa sudah lagu Indonesia, daerah dan asing yang sudah kita hafal dengan penuh penghayatan, apakah dengan menghayati lagu-lagu itu beban dan masalah kita bisa selesai begitu saja ?

Sekarang bukan zaman ‘Kolo Bendu’ atau ‘Sepur Klutuk’ ! kita belajar sholat gak harus nyantri bertahun-tahun, ada VCD Sholat dan Multimedia pembelajaran Sholat juga MP3 bacaan Sholat yang bisa kita mainkan lewat HP kita, tinggal kita serius mengalokasikan waktu untuk belajar Sholat dengan media tersebut, jika masih ada yang belum faham tinggal Tanya saja sama ustadz atau oaring terdekat kita yang lebih tau dan faham.
Yang keempat ini adalah salah satu SYARAT MUTLAK yang harus kita lakukan agar KUALITAS MEETING kita bisa NYAMBUNG dengan BAHASANYA ROBB kita

Sahabat, Ternyata Sholat itu MUDAH dan NIKMAT plus GAK PAKE MODAL, hasilnya LUAR BIASA DAHSYAT, masih gak mau sholat ?
atau malas-malasan Sholat ?
wah jadi TUHAN saja kita, selesai dah !

Nah agar Orgasme Spiritual kita makin Luar Biasa, ikuti terus Kisah dan Catatan Spiritual selanjutnya dengan judul MENIKMATI AL-QUR’AN.

Sahabat, mari kita angkat beban bersama anak anak Yatim dalam PROGRAM CICILAN ISTANA SORGA kita dalam rangka miniti Sebuah Jalan Sukses Tanpa Batas Bersama ( To a Way Unlimited Success Together )

Jazakumullah Ichwan dengan tausiahmu semoga bermanfaat

Rabu, 26 Januari 2011

MISTERI REZEKI


Sahabatqu sekalian yang dimuliakan Allah SWT, tidak satupun diantara kita yang bebas dari berbagai persoalan kehidupan, miskin bermasalah kayapun bermasalah, nganggur bermasalah kerjapun bermasalah, sendiri bermasalah sudah nikahpun bermasalah, gak punya anak bermasalah punya anakpun bermasalah, nah sebaik-baik kita yang bermasalah adalah yang tidak pernah lari dari masalah siap menghadapi dan mensyukuri setiap apapun yang terjadi. Karena hakekatnya masalah adalah sengaja dibuat oleh Allah sebagai ujian untuk mengetahui siapa diantara kita yang terbaik iman dan amalnya.
Ketika Nabi Muhammad SAW mengundang para sahabat untuk menghadiri walimatul ursy ( Pesta Pernikahan ) yang diadakan beliau dengan seorang wanita yang menjadi istrinya. Para sahabat hadir dan begitu mereka menyaksikan tentang rupa makanan yang dijamukan oleh Rasulullah SAW, mereka tak tahan untuk tidak memperbincangkannya.
" Darimana Rasulullah SAW akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari para istri-istrinya ? coba lihat, jamuan walimahnya saja cuma seperti itu ?"
Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh para sahabat saat itu. Usai menunaikan sholat, Rasulullah SAW menceritakan suatu kisah kepada para sahabat yang hadir.
" Aku ingin menceritakan suatu kisah perihal rezeki kepada kalian. Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku. Bolehkah aku meneruskan kisah ini kepada kalian ?"
Rasulullah SAW kemudian memulai kisahnya.
" Suatu ketika Nabi sulaiman a.s melakukan sholat ditepi pantai. Usai sholat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang mendengar si semut memanggil-manggil si katak. Tak berapa lama kemudian, lalu seekor katak muncul. Ada apa gerangan dengan si katak itu sehingga si semut terus-menerus memanggilnya tadi ? Nabi Sulaiman menyaksikan bahwa begitu si katak muncul, katak itu langsung saja menggendong sang semut masuk ke dalam air menuju dasar laut.
Ada apa di dasar laut ? Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa di sana ada berdiam seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rezekinya kepada si semut.
" Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu ". Demikian si semut memberikan penjelasannya kepada Nabi Sulaiman a.s. " Siapakah malaikat itu, hai semut ?" tanya Nabi Sulaiman kepada si semut dengan penuh selidik. " dia adalah si katak sendiri. Malaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkan aku menuju dasar laut ".
Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, " Maha Besar Allah yang mentakdirkan aku hidup di dasar laut ". Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.
" Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rezeki dan rahmatnya ?"
Sahabat, marilah kita lihat hewan yang sangat lemah, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.
Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk menjemput rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan tubuhnya ke batu, atau terjun dari gedung lantai 7. emang ada cacing bisa naik lift ? he he he...
Sahabat, sebenarnya kebutuhan perut dan tubuh kita ini sebenarnya tidaklah menuntut yang aneh-aneh, namun kita seringkali membeli barang yang aneh-aneh demi memenuhi berbagai keinginan-keinginan nafsu kita, makan di warung kaki lima sama di restoran sama kenyangnya, baju di mall sama baju di Tanah Abang sama nyamannya, rumah sederhana sama rumah mewah sama fungsinya, ya… ternyata gaya hidup yang membuat kita memaksakan diri dan mempersulit diri kita sendiri, hanya dengan mencontoh gaya hidup Muhammad SAW maka hidup kita akan ringan, mudah dan penuh berkah.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepada kalian hingga kalian mengikuti GAYA HIDUP mereka.” ( Al-Baqoroh : 120 ), karena dengan mengikuti gaya hidup mereka maka kantong kita dan kantong negara kita ini akan terkuras habis sampai ngutang sama mereka, maka barulah mereka tersenyum menjabat tangan kita.
Sahabat, dari pada mengikuti gaya hidup mereka mending kita alihkan untuk investasi yang lebih prospektif untuk masa depan kita di Dunia dan Akhirat kelak.
Akhir kata, mari abdikan sebagian rizki dengan sedekah. Semoga bermanfaat, Amiiien

dikutip dari ikhwan Blog

Selasa, 18 Januari 2011

Memanfaatkan Usia



Memanfaatkan Usia

Di antara karunia Allah yang paling berharga bagi manusia adalah usia, waktu, dan kesempatan hidup. Dengan ketiga hal itu manusia bisa berkarya, mengukir prestasi, beribadah, dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jika orang Barat berkata bahwa waktu adalah uang (time is money), lalu bangsa Arab mengibaratkan waktu laksana pedang yang jika tidak ditebas ia akan menebas, Islam mengajarkan waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.

Sumpah Allah dengan keseluruhan waktu menjadi petunjuk atas hal itu. Dalam Al-Quran Allah bersumpah dengan waktu fajar, Subuh, dhuha, siang, asar, dan malam. Di samping untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sumpah Allah dengan waktu merupakan isyarat agar manusia mempergunakan waktu yang dimiliki secara optimal.

Allah berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati dengan kebenaran, serta nasihat-menasihati dalam kesabaran ” (QS. Al-Ashr [103]: 1-3).

Ketika Rasulullah SAW ditanya, “Siapa manusia terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang usianya dan baik amalnya.” Beliau kembali ditanya, “Lalu siapa manusia terburuk?” Jawab Rasul, “Orang yang panjang usianya tetapi jelek amalnya.” (HR at-Tirmidzi).

Karena itu, generasi saleh terdahulu begitu menghargai waktu. Usia singkat yang Allah karuniakan pada mereka benar-benar dimanfaatkan untuk amal-amal positif, hingga melahirkan banyak karya yang monumental.

Misalnya, sahabat yang bernama Sa’ad ibn Mu’adz. la masuk Islam pada usia 30 tahun dan meninggal pada usia 37 tahun. “Singgasana Tuhan berguncang karena kematian Sa’ad ibn Mu’adz,” begitu komentar Rasulullah atas kematian Sa’ad. Meski hanya tujuh tahun bersama Islam, ia telah memberikan kontribusi besar dalam jihad dan dakwah Islam.

Contoh lainnya, Imam Nawawi yang berusia tidak lebih dari 40 tahun, tetapi berhasil menulis sekitar 500 buku. Salah satunya kitab Riyadhus Shalihin yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Lewat karya-karya dan jasa yang ditorehkan itu, hidup mereka membentang hingga akhir zaman, jauh melampaui usia biologisnya.

Mereka itulah teladan umat yang mampu meresapi keluhuran ajaran Nabi SAW dalam sabdanya, “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, serta ilmunya dalam hal apa ia amalkan.” (Hadis Shahih Riwayat At Tirmidzi dan Ad Darimi).
di Ungguh dr Ikhwan bin Taro

Kamis, 13 Januari 2011

FIQHUL JUM'AT


FIQHUL JUM'AT.


Tausyiah Jumu’ah

  1. Dasar Hukum Shalat Jum'at.

· Qs.62:9. Bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Shalat Juma'at adalah hak yg wajib ditunaikan bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali 4 gol yaitu;

hamba sahaya, wanita, anak kecil, dan org sakit" (HSR.A.Dawud 1054, dll, dari Thariq bin Syihab. Shahih Jami'us Shaghir 3111).

· "Dari Ibnu Umar. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Musafir tdk wajib melaksanakan Jum'at".(HSR.Daruquthni II/4 No. 4).

  1. Ancaman bagi yg meninggalkan shalat Jum'at tanpa uzdur :

· "Hendaklah org itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum'at atau Allah 'Azza wa Jalla benar benar menutup rapat hati mereka, lalu mereka benar benar menjadi orang orang yg lalai".(HR.Muslim 865.An Nasa-i III/88).

· "Barangsiapa meninggalkan shalat Jum'at tiga kali tanpa udzur, niscaya Allah akan menutup hatinya". (HHS.Shahih A.Dawud 923, Tirmidzi 498, Ibnu Majah 1125).

· "Barangsiapa meninggalkan shalat Jum'at tiga kali tanpa udzur ,niscaya dia tercatat dalam golongan orang orangmunafik" (HR.Thabrani dlm Al Kabir 422. Shahihul Jami'ush Shaghir 6144).

  1. Keutamaan hari Jum'at.

· "Sebaik baik hari yg padanya terbit matahari adalah hari Jum'at. Pada hari itu Nabi Adam 'alaihis salam diciptakan, pada hari itu beliau dimasukkan dan dikeluarkan dari surga. Dan Kiamat tidak akan terjadi kecuali hari Jum'at".(HSR.Muslim 854).

· "Barangsiapa yg mandi di hari Jum'at kemudian berangkat lbh awal, berjalan tanpa kendaraan, lalu mendekat ke imam utk mendengarkan khutbah dg khusyu', niscaya pada tiap tiap ayunan langkahnya bernilai pahala setahun".(HSR.Shahih Abu Dawud 333.Shahih Ibnu Majah 891).

  1. Yang harus dilakukan bagi laki laki yg hendak shalat Jum'at.

· Mandi, "Mandi Hari Jum'at wajib bagi setiap orang yg baligh".(Bukhari 858.Muslim 846).

· Segera ke Masjid.

Shalat Tahiyyatul Masjid, walaupun imam sedang khutbah. "Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, hendaklah dia tidak duduk, kecuali telah mengerjakan shalat dua rakaat". (Muttafaq Alaih, Bukhari 1110. Muslim 714).

Disunnahkan shalat sunnah intizhar (menunggu,.maksudnya sambil menunggu imam berkhutbah), dua rakaat atau lebih semampunya. "Barangsiapa yg mandi spt mandi junub, kemudian datang ke masjid utk shalat jum'at, lalu dia shalat intizhar semampunya, kemudian memperhatikan imam hingga selesai khutbahnya, kemudian shalat bersamanya, niscaya diampuni dosa dosanya yg terjadi antara jumat itu dg jumat berikutnya ditambah tiga hari".(HSR.Muslim 857. Shahih Jami'ush Shaghir 6062).

· Wajib mendengarkan khutbahnya imam dan haram berbicara. "Apabila engkau berkata kpd temanmu: “Diamlah !” Pada hari Jumat dimana imam sdg khutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia sia", (HSR.Shahih ibnu Majah 911, An Nasa-i III/112.).

· Disunnahkan shalat empat atau dua rakaat sesudah shalat Jum'at. "Apabila salah seorang dari kalian shalat Jum'at, maka shalatlah sesudahnya empat rakaat".(HSR.Muslim 882.Tirmidzi 552). Cara Shalat sunnatnya : dua rakaat + dua rakar." Dari Ibnu Umar: Nabi shalat dua rakaat sesudah juma'at di rumahnya". (Muttafaq Alaih.Bukhari, Fathul Bari 937.Muslim 71 & 822).


5. Bagi laki laki atau wanita disunnahkan pada hari jum'at utk :

· Membaca Qs.18. Al Kahfi. "Barangsiapa membaca Surat Al Kahfi pada hari Jum'at, niscaya bacaan tsb menjadi cahaya baginya yang meneranginya antara dua Jum'at" (HSR.Hakim dlm al Mustadrak II/368.Baihaqi. III/249, Shahih al Jami'ush Shaghir 6470, Irwa-ul Ghalil 626).

· Memperbanyak shalawat utk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."Pada hari Jum'at Nabi Adam alaihis salam diciptakan, pada hari itu dicabut nyawanya, pada hari sangkakala ditiupkan, dan pada hari itu Kiamat akan terjadi. Maka perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, krn shalawatmu akan ditampakkan untukku.
Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami ditunjukkan kpdmu, padahal engkau sdh menjadi tulang belulang?? Beliau bersabda : "Sesusngguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengharamkan tanah memakan jasad para Nabi". Pada lafazh itu malaikat akan menyampaikan shalawat kalian kpdku.(I.Majah 889.Nasai III/91).

· Memperbanyak doa pada hari Jumat, terutama pada waktu ashar. “Pada hari Jumat terdapat suatu waktu, dimana tidak mendapati seseorang mukmun mendirikan shalat dan meminta sesuatu kepada Allah ta’ala melainkan Allah akan mengabulkan.

Beliau mengisyaratkan dg tangannya, menunjukkan sedikit/singkatnya waktu itu” (Muttafaqa alaih. Bukhari 935, Muslim 852)

Hari Jum'at, setiap hamba muslim memohon apapun kepada Allah “azza wajalla, pada hari itu pasti Allah memenuhi permohonannya.

Karena itu carilah emas itu pada akhir waktu sesudah shalat ashar” (HR Muslim 853, AlHakim berkata hadist ini shahih menurut syarat Muslim, Shahih Targhib wat Tarhib 705).

Wabillahit taufiq wal hidayah. Selamat menjalankan. Taqaballahu minna wa minkum.
(AlfaqirLillah : Salim Bin Yahya Qibas)


Semoga b'manfaat Mayong R. InsyaAllah

Khusnul Khotimah


Khusnul Khotimah

Pertanyaan:

Seorang teman akrab saya, pintar, sukses dan kaya. Hidupnya penuh keberuntungan, dan sepertinya hidupnya tidak pernah punya permasalahan.

Orangnya sangat simpatik dalam pergaulan, sangat loyal kepada perkawanan, tidak pernah menolak untuk menolong temannya yang dalam kesulitan, sepertinya bagi dia menolong setiap orang temannya atau bukan temannya tidak pernah menjadi masalah baginya.

Saya sendiri sudah tak tertolong banyaknya dibantu oleh dia. Sehingga kadang-kadang saya malu untuk minta bantuan lagi, tapi karena kesulitan hidup berkali-kali saya terpaksa minta tolong dia lagi. Dan selalu saja dia memberikan bantuan tanpa banyak cincong.

Hal itu bukan saja terhadap saya yang memang teman akrabnya semenjak SD tetapi juga terhadap teman-teman yang lain, apalagi terhadap sanak familinya, tangannya selalu terbuka.

Dan yang hebatnya lagi dia selalu memberikan bantuan itu dengan tulus, dengan senyum tanpa pernah menunjukkan keberatan dan memberi nasehat seperti kalau kita meminta bantuan dengan teman yang lain ataupun ketika kita meminta bantuan dengan sanak famili.

Jangan tanya dalam hal membantu anak yatim ataupun dalam membantu pembangunan masjid dan musholla, dia dikenal dimana-mana sebagai donatur yang selalu terbuka memberikan bantuan.

Hanya saja …… teman akrab saya itu belum menjalankan perintah agama dengan tertib dan taat. Shalatnya kadang-kadang saja. Kalau puasa ramadhan, hanya dihari pertama dan dihari terakhir saja. Tapi, dalam soal zakat dia sangat taat.

Yang lain lagi hidupnya glamour dari pelukan perempuan yang satu kepelukan perempuan yang lain Dalam soal ini istermya cukup makan hati. Namun keharmonisan keluarga dan rumah tangganya terpelihara. Karena pada akhirnya loyalitasnya adalah pada istri dan rumah tangganya.

Bila hal itu saya singgung kepadanya, dengan serius dia menjawab : “Sabar sobat, sekarang saya lagi muas-muasin kehidupan. Kapan lagi kita menikmati hidup, dimasa muda ini kan?

Nanti, kalau umur saya udah 45 tahun, saya akan pergi haji, dan belajar agama dengan serius, sehingga diumur 50 tahun nanti saya sudah boleh menyandang kiyai haji, dan saat itu saya akan punya pesantren sendiri. Pendeknya, akhir hidupku nanti khusnul khatimah!”, demikian jawabannya berulang-ulang kepada saya. bila menyinggung gaya hidupnya.

Empat bulan yang lalu teman akrab saya itu meninggal dunia mendadak, karena kecelakan lalu lintas di jalan tol. Umurnya baru 39 tahun. Saya menangisi kematiannya.

Saya menagis karena saya sedih, cita-citanya untuk kiyai haji, untuk punya pesantren sendiri, untuk khusnul khatimah sepertinya tidak tercapai. Betulkah demikian ustadz?

Sebaliknya, saya punya paman adalah seorang yang sangat alim, yang disaat menginjak umur 60 tahun terkena berbagai penyakit, dimulai dengan diabetes, kemudian berkembang menjadi komplikasi ke jantung dan ginjal.

Beliau sempat sakit hampir 6 tahun. Penyakitnya menahun, dan pada waktu akhir-akhir dari kehidupannya, beliau begitu takut kepada kematian dan sepertinya tidak terima, kenapa orang yang sebaik dia, sealim dia, diberikan cobaan hidup yang begitu berat dengan berbagai penyakit?

Ketika beliau meninggal dunia saya juga menangis, saya khawatir beliau tidak khusnul khatimah, karena dimasa-masa akhir kehidupannya dia begitu takut dengan kematian, dan sepertinya tidak bisa menerima atas takdir Allah SWT yang ditimpakan kepadanya.

Saya takut jangan sampai beliau berburuk sangka kepada Allah SWT. Dan hal itu dengan takut-takut pernah saya ingatkan kepada beliau. Dan saya lihat beliau hanya terdiam, kalau hal itu saya ingatkan.

Dalam keadaan yang demikian beliau meninggal dunia, adakah beliau mendapatkan khusnul khatimah?

Jawaban:

Khusnul khatimah, maknanya adalah mengakhiri hidup dengan baik. Yaitu mengakhiri hidup dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Secara logika agama Islam itu mudah sekali, yang penting itu adalah mengakhiri hidup dengan khusnul khatimah. Apakah sepanjang hidupnya yang lain tidak taat, tidak takwa tidak jadi soal. Karena itu memang banyak orang Islam berkata, . …”nanti kalau saya udah tua….saya akan taat”.

Almarhum Prof. Mr Kasman Singodimejo, pernah berkata : “Dalam Islam itu yang penting matinya khusnul khatimah. Hidupnya sebelumnya bejat, nggak jadi soal. Yang penting matinya khusnul khatimah. Tapi masalahnya, tahukah saudara, kapan saudara akan mati?

Kalau saudara tahu: ya boleh saja mengumbar kehidupan semaunya, begitu tiga tahun lagi akan meninggal dunia, langsung hidupnya taat sehingga mendapat khusnul khatimah. Tapi … masalahnya saudara kan tidak tahu kapan saudara mati!

Supaya saudara mati dalam keadaan khusnul khatimah. maka hendaklah hidup dalam taat dan takwa. Karena hanya dengan itu ada jaminan saudara akan mati dalam keadaan khusnul khatimah!”

Lebih lanjut Pak Kasman memberi contoh : “Seperti mahasiswa, yang paling beruntung itu tidak belajar, tapi lulus. Yang normal itu tidak belajar, ya tidak lulus. Yang normal itu belajar dan lulus. Yang malang itu, belajar tapi tidak lulus. Supaya lulus, yang normal ialah dengan belajar. Karena itu mahasiswa yang mau lulus tentulah harus belajar!”.

Nah,…. seperti teman saudara penanya, ternyata maut menjemputnya disaat dia masih jauh dari umur 45 tahun. Apakah dia khusnul khatimah? Wallahu alam, karena hal itu adalah, tergantung kepada Allah SWT. Hanya dari sudut zahirnya, seperti saudara penanya katakan teman itu adalah seorang yang tidak taat dan tidak takwa.

Mengenai paman yang alim, insya Allah beliau mengetahui bahwa setiap orang yang beriman itu akan mendapat ujian. Para nabi dan para rasul saja mendapat berbagai ujian yang berat-berat, dan diantaranya berupa ujian penyakit berat yang menahun.

Bahwasanya orang takut kepada mati adalah wajar. Bahwasanya orang mengeluh ketika mendapat musibah juga adalah normal. Sepanjang ketakutan kepada mati dan keluhan terhadap musibah tidak sampai meninggalkan perintah dan larangan Allah SWT serta tidak berburuk sangka kepada Allah SWT dan takdir-Nya, insya Allah masih berada dalam koridor yang dibolehkan.

“Orang mukmin” itu kata Rasulullah SAW adalah beruntung : “Mereka syukur ketika mendapat nikmat dan sabar ketika mendapat musibah” (HR Imam Muslim) Mudah-mudahan kita semua begitu. Amin.

Sumber : Mimbar Jum'at