Kamis, 14 Januari 2016

MASYAAALLAH TERNYATA SHALAT TAHAJUD MAMPU MENGHANCUR KAN PENYAKIT KANKER MEMAMITIKAN BERIKUT KISAHNYA (KISAH NYATA)




Suatu riset ilmiah menunjukkan, shalat tahajud membebaskan seseorang dari berbagai penyakit.
Berbahagialah Anda yang rajin shalat tahajud. Di satu segi pundi­-pundi pahala Anda semakin jadi tambah, di sisi lain, Anda juga dapat memetik keuntungan jasmaniah. Insya Allah, Anda akan terbebas dari pelbagai penyakit.
Ini bukanlah ungkapan teoritis semata, tetapi telah diuji serta dibuktikan melalui riset ilmiah. Penelitinya dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Mohammad Sholeh, dalam usahanya mencapai gelar doktor. Sholeh melakukan riset pada para siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang dengan cara teratur memang menunaikan shalat tahajud.

Ketenangan
Shalat tahajud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata Sholeh, bisa menghadirkan Ketenangan. Sesaat ketenangan itu sendiri dapat dibuktikan dapat tingkatkan ketahanan badan imunologik, kurangi resiko terkena penyakit jantung serta tingkatkan usia harapan hidup.
Sebaliknya, bentuk-­bentuk tekanan mental seperti Stress maupun Depresi membuat seorang rawan pada beragam penyakit, infeksi serta mempercepat  perkembangan sel kanker dan tingkatkan metastasis (penyebaran sel kanker).
Tekanan mental tersebut berlangsung disebabkan masalah irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan Hormon Kortisol. Butuh diketahui, Hormon Kortisol itu biasa digunakan sebagai tolok ukur untuk tahu keadaan seorang apakah jiwanya tengah diserang stres, depresi atau tak.
Untungnya, kata Sholeh, Stres Dapat Dikelola. Serta pengelolaan ini dapat dilaksanakan lewat cara mendidik atau mungkin dengan langkah Tehnis Relaksasi atau Perenungan/Tafakur dan umpan balik hayati (bio feed back). " Nah, shalat tahajud mempunyai kandungan segi meditasi serta relaksasi hingga bisa dipakai sebagai coping mechanism atau pereda stres yang bakal tingkatkan ketahanan badan seorang dengan cara alami ", terang Sholeh dalam disertasinya berjudul Dampak Shalat Tahajud Pada Penambahan Pergantian Tanggapan Ketahanan Badan Imunologik.

Tahajud mesti dengan cara Ikhlas & Kontinyu
Tetapi ketika yang sama, shalat tahajud juga Dapat Mendatangkan Stres, terutama apabila Tak Dikerjakan Dengan cara Ikhlas serta Kontinyu. " Bila tak dikerjakan dengan ikhlas, akan berlangsung kegagalan dalam melindungi homeostasis atau daya adaptasi pada pergantian pola irama perkembangan sel yang normal, namun bila digerakkan dengan ikhlas serta kontinyu bakal sebaliknya ", tuturnya pada Republika.
Dengan demikian, keikhlasan dalam menggerakkan shalat tahajud jadi sangat utama. Sampai kini banyak kiai, serta intelektual memiliki pendapat bahwa ikhlas adalah masalah mental­psikis. Berarti, cuma Allah swt yang tahu serta mustahil bisa dibuktikan dengan cara ilmiah. Tetapi melalui penelitiannya, Sholeh memiliki pendapat lain.

Ia meyakini, dengan cara medis, ikhlas yang dilihat sebagai suatu hal yang misteri ini bisa dibuktikan dengan cara kuantitatif lewat indikator sekresi hormon kortisol. " Keikhlasan Anda dalam shalat tahajud bisa dimonitor melalui irama sirkadian, terlebih pada sekresi hormon kortisolnya ", kata pria yang mencapai gelar doktor pada bagian psikoneoroimunologi dari Fakultas Kedokteran Kampus Airlangga itu.
Diterangkan Sholeh, bila ada seorang yang rasakan sakit sesudah menjalankan shalat tahajud, kemungkinan besar ini terkait dengan kemauan yg tidak ikhlas, hingga tidak berhasil pada pergantian irama sirkadian itu. Masalah penyesuaian itu tercermin pada sekresi kortisol dalam serum darah yang semestinya alami penurunan pada malam hari.
Jika sekresi kortisol terus tinggi, jadi produksi tanggapan imunologik bakal alami penurunan hingga menyebabkan timbulnya masalah kesehatan pada badan seorang. Sedang sekresi kortisol alami penurunan, jadi tanda-tandanya yaitu terjadinya produksi tanggapan imunologik yang bertambah pada badan seorang. Kemauan yang tidak ikhlas, kata Sholeh, bakal menyebabkan Kekecewaan, Persepsi Negatif, serta Rasa Tertekan. Perasaan negatif serta tertekan ini jadikan seorang rawan terhadap serangan stres.

Dalam keadaan stres yang berkelanjutan yang ditandai dengan tingginya sekresi kortisol, jadi hormon kortisol ini bakal melakukan tindakan sebagai imunosupresif yang menghimpit proliferasi limfosit yang bakal menyebabkan imunoglobulin tidak terinduksi. Lantaran imunoglobulin tak terinduksi jadi system ketahanan badan bakal alami penurunan hingga rawan terserang infeksi serta kanker.
Kanker, seperti di ketahui, yaitu perkembangan sel yg tidak normal. " Nah, kalau melakukan shalat tahajud dengan ikhlas serta kontinyu akan merangsang perkembangan sel dengan cara normal hingga membebaskan pengamal shalat tahajud dari beragam penyakit serta kanker (tumor ganas), " kata alumni Pesantren Lirboyo Kediri Jawa timur itu. Menurut dia, shalat tahajud yang digerakkan dengan pas, kontinyu, khusuk, serta ikhlas bisa menyebabkan persepsi serta motivasi positif sehingga
menumbuhkan coping mechanism yang efisien.
Sholeh menuturkan, tanggapan emosional yang positif atau coping mechanism dari dampak shalat tahajud itu jalan mengalir pada badan serta di terima oleh batang otak. Sesudah diformat dengan bhs otak, lalu ditrasmisikan ke salah satu sisi otak besar yaitu Talamus. Lalu, Talamus menghubungi Hipokampus  (pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan semuanya yang diserap indera)
untuk mensekresi GABA yang bertugas sebagai pengontrol tanggapan emosi, dan menghalangi Acetylcholine, serotonis serta neurotransmiter yang lain yang menghasilkan sekresi kortisol.

Senin, 23 November 2015

Temuan Mengejutkan Kota Sodom yang Dibinasakan Allah



# : 6/6

Sodom. Inilah kota yang lenyap “ditelan” Bumi. Wilayah yang diyakini sebagai tempat peradaban kaum Nabi Luth AS ini sirna akibat bencana dahsyat.
Dalam Alquran disebutkan Allah murka atas kemaksiatan kaum Nabi Luth. Selain menyembah berhala, mereka dikenal gemar berzina, penyuka sesama jenis, dan kemaksiatan lain.
Dosa-dosa itu membuat Allah murka. Kota tersebut kemudian “dijungkirbalikkan”. Musnah. 

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.” [Surat Hud Ayat 82].

Setelah ribuan tahun, para ilmuwan mencari kota yang hilang itu. Sejak 2005, mereka melakukan ekskavasi di Tall el-Hammam, Yordania. Wilayah yang terletak di timur Sungai Yordan itu diyakini menjadi lokasi reruntuhan Kota Sodom yang dilaknat itu.



Para ilmuwan yakin Kota Sodom dan juga Goromah terletak di lembah Sungai Yordan, sebelah utara Danau Mati. Sodom diyakini sebagai kota yang besar, makmur, dan menjadi pusat perdagangan semasa jayanya.
Dan kini, setelah satu dekade penggalian, para ilmuwan sangat yakin, di sanalah Kota Sodom dulunya berdiri. Dalam ekskavasi itu, mereka mendapat temuan yang mengejutkan.
Dikutip Dream dari Daily Mail, Kamis 15 Oktober 2015, para ilmuwan menemukan puing-puing kota dari Zaman Perunggu di Tall el-Hammam. Kota ini diyakini sangat mirip dengan Sodom yang digambarkan dalam kitab suci.
Reruntuhan yang diduga sebagai Kota Sodom itu sangatlah luas. Diyakini sebagai kota terluas di wilayah itu, lima hingga sepuluh kali luas kota-kota di sekitarnya.
Steven Collins, ilmuwan Trinity Southwestern University, New Mexico, Amerika Serikat, yang memimpin penelitian tersebut mengklaim, timnya menemukan bukti adanya kota yang diperluas, dilengkapi dinding pertahanan dari bata merah dengan tebal 5,2 meter dan tinggi 10 meter.


Tembok ini dilengkapi dengan gerbang, menara pengawas, dan setidaknya satu jalan. Bagi para peneliti, dinding ini menjadi bukti bahwa kota itu terus diperluas dan diperkaya.
Selama pertengahan Zaman Perunggu, tembok ini digantikan dengan benteng yang lebih besar. Lebar 7 meter, bagian atas datar, dan difungsikan sebagai jalan yang melingkari kota.
Dari temuan-temuan itulah tim yang dipimpin Collins yakin telah menemukan Kota Sodom yang dilenyapkan itu. Para peneliti ini juga memberikan bukti lain untuk mendukung keyakinan mereka bahwa Tall el-Hammam tiba-tiba kosong menjelang akhir Zaman Perunggu.
“Apa yang kami temukan adalah negara-kota yang penting, negara-kota yang besar, untuk semua tujuan praktis, tidak diketahui oleh peneliti sebelum kami mulai proyek kami,” kata Collins.
Tall el-Hammam, tambah Collins, sangat cocok dengan Kota Sodom yang digambarkan di dalam kitab suci, sebagai kota terbesar yang subur di timur Kikkar. “Sehingga, saya menyimpulkan bahwa siapa pun yang ingin menemukan Sodom, seseorang harus mencari kota terbesar yang ada di area ini pada Zaman Perunggu, pada masa Ibrahim,” tambah dia.
Menurut Collins, saat tim melakukan penelitian, mereka dengan jelas memilih Tall el-Hammam sebagai lokasinya. Sebab, mereka yakin wilayah itu merupakan kota yang berukuran lima kali kota-kota lain pada Zaman Perunggu.
“Kami tahu sangat sedikit tentang Zaman Perunggu di selatan Lembah Sungai Yordan. Kebanyakan peta arkeologi area ini kosong,” ujat Collins.
Menurut dia, wilayah ini menjadi gurun tak berpenghuni selama lebih dari 700 tahun. Tapi kemudian, setelah tujuh abad, wilayah itu mulai berkembang lagi, sebagaimana ditunjukkan adanya gerbang besi besar yang mengarah ke kota.
Para ilmuwan sangat yakin dengan temuan ini. Sebab, telah membandingkan temuan-temuan itu dengan fase akhir permukiman lain di wilayah ini. Sehingga, para arkeolog pimpinan Collins yakin wilayah ini menjadi kandidat terbaik sebagai Kota Sodom yang hilang itu.
“Tall el-Hammam persis dengan setiap kriteria Sodom yang disebutkan dalam kitab,” tutur Collins. Kisah Sodom dan Gomorah ini dikisahkan dalam sejumlah kitab. Selain Alquran, kitab agama lain juga menceritakan kisahnya.
Lantas, apakah reruntuhan kota yang ditemukan itu benar-benar Kota Sodom? Meskipun jika temuan ini bukanlah Kota Sodom yang dikisahkan dalam kitab-kitab, para ilmuwan mengatakan penemuan ini masih sangat penting. Sebab telah menunjukkan adanya sebuah kota yang sangat luas.




Ilmuwan: Belah Laut Merah, Nabi Musa AS. Tak Andalkan Keajaiban Tuhan



# : 5/6
Seorang pakar kelautan mengaku telah mengetahui rahasia terbelahnya Laut Merah, saat Nabi Musa menyelamatkan diri dari kejaran tentara Firaun.

Bruce Parker, profesor tamu di Stevens Institute of Technology, New Jersey mengklaim Nabi Musa tidak mengandalkan keajaiban dari Tuhan untuk membelah Laut Merah.
Tapi dia mungkin menggunakan pengetahuannya tentang pasang surut saat memimpin orang-orang Israel menyeberangi Laut Merah, untuk menghindari kejaran tentara Firaun.
Mantan kepala ilmuwan National Ocean Service di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat ini menulis di Wall Street Journal, bahwa Nabi Musa menggunakan pengetahuannya tentang pasang surut untuk memastikan orang-orang yang dibimbingnya bisa menyeberang dengan selamat.

Sebelumnya ada teori yang menyebutkan, terbelahnya Laut Merah akibat tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi. Hal ini karena sebelum tsunami terjadi, biasanya perairan pesisir akan surut.
Namun teori itu dibantah Parker yang menyebutkan bahwa air akan kembali dalam waktu 20 menit. Waktu sesingkat itu tidak bisa memberikan cukup waktu bagi Nabi Musa untuk menyeberang dasar laut yang kering, yang diduga berada di Teluk Suez yang terletak di ujung utara Laut Merah.
Selain itu, Nabi Musa harus mendapat pemberitahuan lebih dahulu dari Tuhan bahwa akan terjadi gempa bumi dan tsunami.

Jika terjadi surut di Teluk Suez maka dasar lautnya bisa kering selama berjam-jam. Nabi Musa berkemah di pantai sebelah barat Teluk Suez ketika tentara Firaun terlihat di kejauhan.
Awan debu yang ditimbulkan oleh kereta dan kuda tentara Firaun yang mendekat akan memungkinkan Nabi Musa untuk menghitung waktu kedatangan mereka, kata Parker.
Karena hidup di gurun, Nabi Musa memiliki pengetahuan soal pasang surut Laut Merah dan dengan melihat bulan, ia bisa memprediksi kapan surut akan terjadi.

Pengetahuan ini tidak dimiliki tentara yang tinggal di sepanjang Sungai Nil, yang terhubung ke Laut Mediterania yang tidak memiliki pasang surut yang unik.
"Mengetahui kapan surut akan terjadi, berapa lama dasar laut akan tetap kering dan kapan air akan naik kembali, Nabi Musa bisa merencanakan pelariannya bersama orang-orang Israel," tulis Parker.
Saat terjadi pengejaran, bulan purnama muncul secara penuh dan itulah saat surut berada di titik terendah sehingga dasar laut bisa tetap kering selama berjam-jam.

Memberikan waktu yang lama bagi Nabi Musa untuk menyeberang. Jika demikian, maka air pasang akan berada di titik tertingginya sehingga mampu menenggelamkan tentara Firaun.
Untuk melakukan itu semua, Nabi Musa harusnya memiliki perhitungan sempurna.
Parker bukanlah ilmuwan pertama yang mengajukan teori ini untuk menjelaskan keajaiban Laut Merah. Dalam sebuah tulisan yang ditulis oleh seorang sejarawan kuno bernama Artapanus yang hidup antara 80-40 SM mengatakan; "Musa, yang menjadi pejabat negara, menunggu air surut dan memimpin orang-orang menyeberang lautan saat dasarnya kering."