# : 5/6
Seorang pakar kelautan mengaku telah mengetahui
rahasia terbelahnya Laut Merah, saat Nabi Musa menyelamatkan diri dari kejaran
tentara Firaun.
Bruce Parker, profesor tamu di Stevens Institute
of Technology, New Jersey mengklaim Nabi Musa tidak mengandalkan keajaiban dari
Tuhan untuk membelah Laut Merah.
Tapi dia mungkin menggunakan pengetahuannya
tentang pasang surut saat memimpin orang-orang Israel menyeberangi Laut Merah,
untuk menghindari kejaran tentara Firaun.
Mantan kepala ilmuwan National Ocean
Service di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)
Amerika Serikat ini menulis di Wall Street Journal, bahwa Nabi
Musa menggunakan pengetahuannya tentang pasang surut untuk memastikan
orang-orang yang dibimbingnya bisa menyeberang dengan selamat.
Sebelumnya ada teori yang menyebutkan,
terbelahnya Laut Merah akibat tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi. Hal ini
karena sebelum tsunami terjadi, biasanya perairan pesisir akan surut.
Namun teori itu dibantah Parker yang menyebutkan
bahwa air akan kembali dalam waktu 20 menit. Waktu sesingkat itu tidak bisa
memberikan cukup waktu bagi Nabi Musa untuk menyeberang dasar laut yang kering,
yang diduga berada di Teluk Suez yang terletak di ujung utara Laut Merah.
Selain itu, Nabi Musa harus mendapat
pemberitahuan lebih dahulu dari Tuhan bahwa akan terjadi gempa bumi dan
tsunami.
Jika terjadi surut di Teluk Suez maka dasar
lautnya bisa kering selama berjam-jam. Nabi Musa berkemah di pantai sebelah
barat Teluk Suez ketika tentara Firaun terlihat di kejauhan.
Awan debu yang ditimbulkan oleh kereta dan kuda
tentara Firaun yang mendekat akan memungkinkan Nabi Musa untuk menghitung waktu
kedatangan mereka, kata Parker.
Karena hidup di gurun, Nabi Musa memiliki
pengetahuan soal pasang surut Laut Merah dan dengan melihat bulan, ia bisa
memprediksi kapan surut akan terjadi.
Pengetahuan ini tidak dimiliki tentara yang
tinggal di sepanjang Sungai Nil, yang terhubung ke Laut Mediterania yang tidak
memiliki pasang surut yang unik.
"Mengetahui kapan surut akan terjadi, berapa
lama dasar laut akan tetap kering dan kapan air akan naik kembali, Nabi Musa
bisa merencanakan pelariannya bersama orang-orang Israel," tulis Parker.
Saat terjadi pengejaran, bulan purnama muncul
secara penuh dan itulah saat surut berada di titik terendah sehingga dasar laut
bisa tetap kering selama berjam-jam.
Memberikan waktu yang lama bagi Nabi Musa untuk
menyeberang. Jika demikian, maka air pasang akan berada di titik tertingginya
sehingga mampu menenggelamkan tentara Firaun.
Untuk melakukan itu semua, Nabi Musa harusnya
memiliki perhitungan sempurna.
Parker bukanlah ilmuwan pertama yang mengajukan
teori ini untuk menjelaskan keajaiban Laut Merah. Dalam sebuah tulisan yang
ditulis oleh seorang sejarawan kuno bernama Artapanus yang hidup antara 80-40
SM mengatakan; "Musa, yang menjadi pejabat negara, menunggu air surut dan
memimpin orang-orang menyeberang lautan saat dasarnya kering."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar